Sebagai lanjutan dari posting perdana sebelum kita masuk ke identifikasi stres yang menghinggapi kita, pada posting kali ini saya coba uraikan stres yang sehari-hari sering menimpa kita, sehingga nantinya dapa kita identifikasi dengan baik stres yang sering melanda jiwa kita itu.
STRES! Kata ini sering bergaung di kepala anda. Beberapa situasi menjamin alarm jenis ini. Ketika anda mengalaminya, anda merasa buruk – sedih. Akan tetapi idak semua situasi stres buruk, karena sebagian malah perlu diundang – situasi yang menimbulkan kesenangan atau memotivasi anda untuk mencapai tujuan anda yang paling penting, bila terjadi sesuatu, anda bereaksi terhadapnya dan anda menjadi bergairah, sebagaimana sudah saya terangkan pada posting perdana tentang eustres dan distres.
Stres adalah bagian dari reaksi anda terhadap situasi yang anda hadapi, bagian dari penafsiran anda terhadap kejadian di dalam situasi tersebut. Hanya orang maati sajalah yang tidak dapat bereaksi terhadap dunia di sekeliling mereka atau di dalam diri mereka.
Di samping itu distress memainkan peranan penting di dalam kehidupan anda. Ia adalah pikiran dan cara tubuh anda bersiap untuk melindungi anda dari bahaya, entah dengan melawannya atau dengan melarikan diri darinya. Tanpa beberapa situasi stres, anda tidak dapat menyelesaikan pekerjaan atau maju di dalam karier. Daripada menyingkirkan atau menghidari stres sama sekali, lebih baik mempelajari bagaimana memanajemeni reaksi stres dan kondisi yang mempengaruhi reaksi tersebut.
Pada saat anda memenangkan hadiah, jantung anda berdetak lebih cepat, otot menjadi tegang, seluruh tubuh memerah dan terasa hangat, khususnya pada wajah dan telinga. Hal yang membuat anda merasa senang ini, atau disebut juga eustress, tidak jauh berbeda dengan reaksi apapun yang membuat anda tidak tenang, atau distress. Apakah suatu pengalaman tampak baik atau buruk bagi anda bergantung kepada bagaimana anda menafsirkannya. Dan setiap orang mempunyai ambang reaksi yang berbeda-beda terhadap satu keadaan yang sama. Keyakinan, nilai, dan sikap anda adalah mata yang anda gunakan untuk memandang dunia ini.
Ada orang yang menyukai bahaya, seperti pendaki gunung, pemanjat tebing, penerjun payung, petualang samudera. Bahaya adalah kehidupan mereka, suatu tantangan. Walaupun tubuh mereka mengalami reaksi stres, benak mereka suka mempertaruhkan nyawa. Mereka memandangnya sebagai sesuatu yang tidak menyusahkan. Namun kebanyakan orang lebih suka yang aman, mengambil resiko yang sekecil mungkin pada setiap tindakannya. Disamping itu ada juga stres yang tak terduga dari eustress menjadi distress, seperti pada penderita asma yang kerap mengalami kesulitan bernafas hanya karena merasakan sesuatu yang membuatnya senang secara tiba-tiba. Rasa tidak enak yang mereka alami membuat mereka takut, sehingga merekapun mengalami serangan. Eustress berubah menjadi distress.
Jadi ketidakmampuan kita menanggulangi kejadian dan reaksi kita terhadap kejadian itulah yang menimbulkan stres. Bukan apa yang terjadi pada diri anda yang menentukan kehidupan anda, tetapi apa yang anda lakukan dengan apa yang terjadi itulah yang penting untuk menanggulangi stres (khususnya distres) itu.
Ada orang yang menanggung resiko penyakit yang disebabkan oleh stres, bahkan kematian, dengan membuat tuntutan yang berlebihan kepada diri mereka sendiri di dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah orang yang terlalu ambisius – pecandu kerja yang agresif, penuh tuntutan, gesit dan lekas marah. Orang yang terlalu ambisius ini mendorong diri mereka hingga hampir mati – sebagian karena takut akan ketergantungan. Mereka tidak bersedia untuk mendelegasikan, kadang memandang rendah orang yang kurang ambisius. Mereka hanya memerintah secara paksa orang lain untuk melakukan kegiatan yang menurutnya produktif. Mereka tidak bergaul baik dengan orang lain, mereka kerap menolak kasih yang ditawarkan kepada mereka, dan mereka jarang memberikan cinta kepada orang lain. Kesepian dan kerap kehabisan tenaga, karena mereka mengganti perkawanan dengan kerja atau kegiatan yang bahkan lebih banyak lagi, dan secara harfiah mendorong diri sendiri ke dalam liang kubur.
Kita merasakan suatu stres yang terbesar sewaktu kita merasa atau percaya bahwa diri kita tak berdaya untuk mengendalikan, mempengaruhi atau mengubah situasi tempat kita berada atau ketika kita mendapatkan sesuatu di luar dugaan dan kita tidak siap untuk mengendalikannya. Kita biasanya mendapatkan diri kita menanggung resiko walaupun kita tidak mencarinya.
Dari penelitian-penelitian terdahulu menyebutkan bahwa kebanyakan istri / ibu yang berkarier di luar rumah dapat menghadapi secara efektif hampir semua yang mereka hadapi / jalani. Dalam banyak kasus mereka mendapatkan dukungan dan bantuan yang mereka perlukan tidak hanya dari keluarga mereka, tetapi juga dari relasi kerja mereka, sehingga kebanyakan wanita-wanita ini menanggulangi stres mereka dengan lebih baik daripada wanita yang hanya bekerja di rumah. Namun tak seorang pun tahu apakah dukungan atau bantuan yang mereka dapatkan yang memberi mereka kekuatan untuk mengurus kehidupan mereka, atau ada sesuatu di dalam kepribadian mereka yang membuat mereka bekerja di luar rumah pada mulanya. Sementara istri atau ibu yang bekerja di rumah harus menghadapi dan menanggulangi relatif sendirian stres yang menghinggapinya, baik stres karena manajemen home industrinya maupun karena masalah keluarganya sendiri, yang sudah pasti akan saling memberatkan bila keduanya muncul bersamaan. Di sini menunjukkan pada kita bahwa ibu rumah tangga yang bekerja di rumah dan mampu menanggulangi masalah yang mereka hadapi, baik masalah usahanya maupun masalah keluarganya, dengan baik lebih menunjukkan mereka adalah wanita yang lebih kuat dibandingkan dengan wanita karier yang bekerja di luar rumah.
Fakta juga berbicara bahwa dewasa ini dengan semakin banyaknya wanita yang berkarier di luar rumah, semakin banyak pula penyakit yang berhubungan dengan stres pun membunuh mereka. Mereka bersaing dengan pria dalam kekerapan mengalami serangan jantung, dan mereka mengalaminya pada usia yang lebih dini dibandingkan dengan yang dialami wanita pada masa lalu. Kanker paru-paru sekarang cenderung makin dominan dibanding kanker payudara sebagai pembunuh wanita.
Tunggu posting saya berikutnya beberapa hari ke depan, tentunya sambil saya tunggu tanggapan atau komentar anda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar